5 Tips di Tempat Kerja Agar Aktifitas Semakin Berkah di Bulan Ramadhan

Ramadhan nan spesial
Ramadhan nan spesial

Bulan Ramadhan adalah bulan yang spesial bagi umat Islam. Bulan Ramadhan adalah bulan pembinaan untuk setiap muslim agar lebih mencurahkan perhatian dan energinya untuk beribadah. Karena di bulan ini segala amal ibadah dihitung berlipat ganda oleh Allah, pintu rahmat serta ampunan-Nya dibuka lebar-lebar. Saatnya untuk memohon ampunan atas segala kesalahan yang pernah diperbuat. Saatnya untuk evaluasi diri. Saatnya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.

Bagi muslimin yang sudah kerja kantoran tentunya sebagian dari waktunya dalam satu hari akan dihabiskan dalam aktifitas bekerja di kantor. Oleh karena itu, menjadikan aktifitas di kantor lebih produktif dibanding bulan biasanya menjadi suatu hal yang mutlak diperlukan. Karena bekerja itu adalah salah satu bentuk ibadah.

Berikut ini adalah 5 tips yang dapat dilakukan agar ibadah kita lebih maksimal di tempat kerja :

1. Hindari gosip

Jika sudah terbiasa, membicarakan rekan kerja terutama hal yang negatif menjadi suatu hal yang wajar. Seharusnya tidak begitu. Karena dalam Islam, kita dilarang untuk membicarakan orang lain. Apa bedanya fitnah dan ghibah? Kalau fitnah adalah membicarakan hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan. Sedangkan ghibah adalah membicarakan hal-hal yang sesuai dengan kenyataan namun jika yang bersangkutan mendengarnya ia tidak menyukainya. Lalu apa bedanya dengan gosip? Gosip adalah memperbincangkan sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Jika kabar itu benar, maka jatuhnya sebagai ghibah. Sedangkan jika kabar itu tidak benar, maka kita telah berghibah.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Tahukah kalian, apakah itu ghibah? Para sahabat menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘engkau membicarakan sesuatu yang terdapat dalam diri saudaramu mengenai sesuatu yang tidak dia sukai. Salah seorang sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah SAW, bagaimana pendapatmu jika yang aku bicarakan benar-benar ada pada diri saudaraku? Rasulullah SAW menjawab, jika yang kau bicarakan ada pada diri saudaramu, maka engkau sungguh telah mengghibahinya. Sedangkan jika yang engkau bicarakan tidak terdapat pada diri saudaramu, maka engkau sungguh telah mendustakannya. (HR. Muslim)

stop ghibah
stop ghibah

Lalu bagaimana caranya untuk menghindari ghibah di tempat kerja? Beberapa hal yang dapat dilakukan :

  • Mengingat bahwa setiap yang kita lakukan, yang kita bicarakan, akan dimintai pertanggungjawabannya. Jadi setiap mengobrol pun kita harus dalam kondisi sadar, bahwa kita sedang diperhatikan oleh Allah dan Malaikat.
  • Sering berkaca pada diri sendiri, apakah kita senang jika mendengar orang lain membicarakan keburukan kita?
  • Menahan diri untuk mengomentari rekan kerja yang memulai pembicaraan ghibah. Lebih baik lagi jika bisa mengingatkan rekan kerja tersebut agar mengurangi pergunjingan.
  • Jika tergoda untuk membicarakan rekan kerja yang lain, sebelum bicara tahan diri terlebih dahulu. Tanyakan kepada diri sendiri, kira-kira apa perlunya saya sampaikan hal ini ke teman saya? Apakah ada manfaat bagi saya, bagi orang yang mendengar informasi ini, dan bagi orang yang saya bicarakan? Jika jawabannya “tidak”, maka tahanlah diri untuk berbicara.

Walau begitu memang ada kondisi-kondisi dimana ghibah itu diperbolehkan. Diambil dari salah satu artikel di dakwatuna.net, Antara Ghibah dan Dusta, Dr. Sayid Muhammad Nuh dalam Afat Ala al-Thariq (1996: III/ 52) mengungkapkan ada enam hal, di mana seseorang diperbolehkan untuk ghibah, yaitu:

1) Tadzalum. Yaitu orang yang teraniaya, kemudian mengadukan derita yang diterimanya kepada hakim, ulama dan penguasa agar dapat mengatasi problematika yang sedang dialaminya. Dalam pengaduan tersebut tentu ia akan menceritakan keburukan orang yang menganiaya dirinya. Dan hal seperti ini diperbolehkan.

2) Meminta bantuan untuk merubah kemungkaran & mengembalikan orang yang maksiat menjadi taat kepada Allah SWT, kepada orang yang dirasa mampu untuk melakukannya. Seperti ulama, ustadz atau psikolog.

3) Meminta fatwa. Seperti seseorang yang meminta fatwa kepada ulama dan ustadz, bahwa saudaraku misalnya menzhalimiku seperti ini, maka bagaimana hukumnya bagi diriku maupun bagi saudaraku tersebut.

4) Peringatan terhadap keburukan atau bahaya. Seperti ketika Fatimah binti Qais RA datang kepada Rasulullah SAW dan memberitahukan bahwa ada dua orang pemuda yang akan meminangnya, yaitu Muawiyah dan Abu Jahm. Rasulullah SAW mengatakan, ‘Adapun Muawiyah, ia adalah seseorang yang sangat miskin, sedangkan Abu Jahm, adalah seseorang yang ringan tangan (suka memukul wanita).” (HR. Muslim)

5) Terhadap orang yang menampakkan kefasikan & kemaksiatannya, seperti minum khamer, berzina, judi, mencuri, dan membunuh. Terhadap orang yang seperti ini kita boleh ghibah. Apalagi terhadap orang yang menampakkan permusuhannya kepada agama Islam dan kaum muslimin.

6) Untuk pengenalan. Adakalanya seseorang telah dikenal dengan julukan tertentu yang terkesan negatif, seperti para periwayat hadits ada yang dikenal dengan sebutan A’masy (si rabun), A’raj (pincang), Asham (tuli), A’ma (buta) dsb. Mereka semua sangat dikenal dengan nama tersebut. Jika disebut nama lain bahkan banyak perawi lainnya yang kurang mengenalnya. Meskipun demikian, tetap menggunakan nama aslinya adalah lebih baik. Bahkan jika dengan namanya tersebut dia telah dikenal, maka tidak boleh menggunakan julukan yang terkesan negatif.

Sekarang, jika ghibah saja dilarang dalam Islam, apalagi fitnah?! Maka dari itu, hindarilah bergosip. Karena bergosip dapat membawa kita ke fitnah ataupun ghibah.

” Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. ” (QS Al-Hujurat ayat 12)

Jangan malas!
Jangan malas!

 2. Hindari bermalas-malasan

Berpuasa bukan berarti kita bisa bermalas-malasan. Ingat, bahkan Perang Badar pun dilakukan ketika pasukan Islam sedang berpuasa loh.. Hasilnya, atas izin Allah, pasukan Islam memenangi peperangan tersebut. Jadi, sudah ngga zamannya lagi menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Malu sama muslimin generasi awal..

Jika berpuasa membuat tubuh ini jadi lebih banyak mengantuk, mungkin kita perlu evaluasi pola makan ketika sahur. Ada baiknya perbanyak serat, bukan karbohidrat. Yaitu sayur dan buah-buahan.

3. Hindari menunda pekerjaan

Kerjakan apa yang bisa dituntaskan hari ini. Karena esok akan ada lagi hal baru untuk diselesaikan. Kedengaran klise ya? Tapi memang ini adalah salah satu inti dari manajemen waktu yang baik. Beberapa tips singkat untuk mengurangi kebiasaan menunda pekerjaan adalah :

Tidak Menunda-nunda
Tidak Menunda-nunda

– Jika pekerjaan menumpuk, biasakan untuk membuat catatan “daftar yang harus dikerjakan”. Hal ini untuk memudahkan kita untuk mengingat kembali apa yang harus diselesaikan. Dan ini berfungsi untuk mencegah kita teralihkan dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lainnya.

– Batasi akses ke media sosial ketika jam kerja. Karena pembicaraan di medsos sangat mudah membuat perhatian kita teralihkan. Beberapa perusahaan bahkan memblokir situs-situs sosial dalam internet kantor agar para pegawainya bisa lebih fokus bekerja loh..

Oh ya, jangan hanya senang karena di Bulan Ramadhan bisa pulang lebih cepat ya.. Hehehee… Justru dengan diberikan kemudahan seperti ini kita harus tunjukkan semangat yang lebih dalam bekerja. Bandingkan dengan muslimin yang berada di negera dimana Islam adalah agama minoritas. Mereka beraktifitas seperti orang lainnya. Tidak ada keringanan di tempat kerja. Maka bersyukurlah kita di Indonesia mendapat banyak kemudahan. Dan bentuk syukur itu adalah dengan bekerja dengan lebih baik.

4. Manfaatkan waktu senggang untuk ibadah

Daripada ngomongin orang lain, daripada tidur-tiduran, daripada browsing-browsing, lebih baik istirahat siang diisi dengan membaca Qur’an. Tilawah dapat dilakukan di manapun, di ruang shalat atau di meja kerja. Karena Bulan Ramadhan hanya satu bulan dalam satu tahun jadi manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk memperbanyak amal.

5. Lebih giat shalat tepat waktu

Nah, kalau biasanya suka menunda-nunda shalat, bahkan mengakhirkan waktu shalat (shalatnya diakhir-akhir waktu) di Bulan Ramadhan ini saatnya kita membiasakan diri untuk shalat tepat waktu. Semoga dengan pembiasaan selama Bulan Ramadhan untuk seterusnya kebiasaan-kebiasaan baik ini bisa terus dikerjakan dengan istiqomah. Aamiin..

Demikian 5 tips untuk membuat Bulan Ramadhan kita lebih baik lagi. Tentunya masih banyak lagi hal-hal yang bisa dilakukan di tempat kerja yang dapat membuat aktifitas kita lebih barokah. Apakah sahabat-sahabat punya tips lainnya? Mari berbagi untuk kebaikan.

Semoga bermanfaat..

^_____^

Ramadan_Special_Ramadan

Leave a Reply