Konflik Antar Anak Dan Cara Mengatasinya

konflik antar anak dan cara mengatasinya

Apa itu Konflik Antar Anak Dan Mengapa Terjadi?

Konflik berarti pertentangan atau perselisihan. Pertentangan antar individu adalah suatu hal yang wajar. Karena setiap individu memiliki karakter dan keinginan yang berbeda-beda. Termasuk diantara anak-anak kita. Apalagi jika usia antar keduanya berdekatan. Yang artinya kematangan emosional mereka berada di level yang hampir setara.

Apa Manfaat Dari Mengetahui Jenis-Jenis Pertentangan Pada Anak?

Mengetahui tipe-tipe pertentangan antar anak akan membantu kita sebagai orang tua untuk memposisikan diri. Apakah harus membantu melerai? Atau cukup diawasi saja? Dengan pengetahuan ini dapat mengurangi stress kita dalam mengasuh anak-anak. Selain itu, dengan memberikan contoh cara mengatasi konflik dengan tepat, kita telah membantu meningkatkan kemampuan anak dalam menghadapi konflik.

Tipe Pertentangan Antar Anak

Secara sederhana, berikut ini adalah tiga level pertentangan antar anak.

Saling Tidak Setuju (Level 1)

Pertentangan pada level ini contohnya adalah berselisih tentang mau main apa. Atau tentang giliran mainnya siapa. Atau ketika ada yang merasa dicurangi dalam bermain. Pertentangan di level ini hanya perlu pengawasan dari orang tua saja. Ajarkan anak untuk dapat mengutarakan idenya dengan baik. Dengan cara itu, kemampuan berkomunikasi anak pun meningkat.

Saling Tidak Setuju (Level 2)

Nah, pertentangan pada level 1 di atas adakalanya semakin memanas. Jika ketegangan meningkat, anak-anak makin meninggi nada suaranya, saatnya orang tua turun tangan untuk membantu mencarikan jalan keluarnya. Contohnya jika terjadi perebutan mainan. Orang tua dapat membantu penyelesaian dengan membuat kesepakatan waktu bermain dengan mainan tersebut. Misalnya, tiap anak dapat giliran 10 menit dan setelah itu gantian.

Pertentangan Yang Disertai Tindakan Agresif (Level 3)

Apa itu tindakan agresif? Tindakan agresif adalah tindakan bersifat menyerang yang dilakukan dengan sengaja untuk menyakiti. Tindakan agresif dapat berupa lisan maupun fisik. Agresif secara lisan contohnya menjelek-jelekkan fisik (body shaming), mem-bully dengan kata-kata, hingga sengaja menyindir yang membuat lawan bicara menjadi kesal. Agresif secara fisik contohnya dengan mendorong, memukul, menarik rambut, dan sejenisnya.

Tindakan agresif tersebut harus ditangani secara serius. SEGERA lerai dan hentikan. Berikan pemahaman pada anak bahwa tindakan agresif tidaklah patut dan tidak dapat ditolerir.

Nah, itulah tipe konflik antar anak.

Teori memang lebih mudah dibanding praktik. Pada praktiknya kita perlu banyak BERSABAR dalam menghadapi tingkah laku anak-anak kita.
Bagaimana menurut teman-teman?

Leave a Reply