Paradigma Penelitian Dalam Ilmu Sosial

Yagi Studio/Getty Images

Paradigma Penelitian

Paradigma penelitian adalah pola pandang yang digunakan dalam melakukan penelitian. Dengan mengetahui paradigma penelitian dapat membantu kita untuk mengidentifikasi, menganalisa, serta melakukan suatu penelitian. Sampai saat ini ada tiga paradigma penelitian dalam ilmu sosial, yaitu positivisme, konstuktivisme, dan teori kritis (critical theory). Apa perbedaannya?

1. Positivisme

Paradigma positivisme berbentuk pengujian teori. Positivisme mengacu pada hukum-hukum positif (ilmu alam). Contoh, di bulan Desember musim salju/hujan.

Paradigma positivisme menggunakan pendekatan kuantitatif. Dengan metode matematik (statistik). Positivisme bersifat nomotetic, yaitu peniliti berkewajiban melakukan generalisasi sample terhadap populasi.

Penelitian dengan paradigma positivisme terdiri atas tiga jenis penelitian, yaitu eksplorasi, deskripsi, dan eksplanasi (sebab-akibat).

Adapun tahapan-tahapan dalam penelitian dengan paradigma positivisme adalah :

  • Menentukan populasinya
  • Mengambil sample (probability random sampling) 
  • Melakukan teknik pengambilan data (survey)
  • Melakukan teknik analisa data -> validitas dan realibilitas
  • Menggunakan metode statistik dalam analisa.
  • Melihat hubungan.

2. Konstruktivisme / Interpretation

Mengkonstruksikan teori atau realitas. Meneliti fenomena atau gejala. Diawali dengan subjektivitas kemudian diteliti berdasarkan interpretasi/ pemaknaan/ understanding.

Paradigma konstruktivisme menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan dua jenis penelitian yang dilakukan, yaitu eksplorasi dan deskriptif.

Konstuktivisme bersifat ideografik, yaitu tidak ada keharusan untuk menggeneralisasi sample terhadap populasi.

Contohnya, coba jelaskan mengenai proses pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hasilnya akan sangat berbeda bagi tiap individu. Sangat subjektif tergantung dari pengalaman dan pemaknaan dari masing-masing individu.

3. Teori Kritis (Critical Theory)

Memberikan kritik terhadap teori/paradigma/perspektif modern, yaitu paradigma positivisme, yang menjelaskan hubungan antar variable hanya dengan pendekatan matematis. Contohnya, apa benar performa seorang karyawan hanya ditentukan oleh besarnya renumerasi?

Paradigma teori kritis menggunakan metode kualitatif. Seorang yang menggunakan paradigma teori kritis sebetulnya sudah memiliki ideologi untuk membongkar realitas. Contoh : 

  1. Karl Max yang membongkar teori kapitalis. Ia sudah memiliki ideologi marxisme dalam benaknya.
  2. Feminisme yang sudah punya teori untuk membongkar teori dari maskulinisme. 

Apa Itu Metode Kuantitatif dan Metode Kualitatif?

Metode Kuantitatif

Menggunakan model matematis/statistik.

Metode Kualitatif

Kebenaran metode kualitatif mengacu pada pengalaman yang subjektif. Tidak ditentukan oleh banyaknya sample.

Ada 5 tradisi/strategi dari metode kualitatif : 

  1. Naratif
  2. Case study
  3. Etnografi
  4. Fenomenalogy
  5. Grounded theory

Menggunakan metode penelitian eksplorasi dan/atau deskripsi. Cara yang dapat dilakukan : 

  • Observasi langsung
  • Participant observer
  • Wawancara mendalam
  • Focus group discussion

Peneliti sebagai instrumen. Contohnya peneliti yang meneliti tentang 5 keluarga miskin di Meksiko. Ia tinggal bersama keluarga tersebut untuk mendapatkan pengalaman dan pemahaman subjektif.

Filasafat Ilmu

  1. Ontology
    Apa yang dipelajari dari ilmu pengetahuan? untuk apa ilmu pengetahuan itu digunakan? Contoh : apa itu ilmu administrasi bisnis? untuk apa mempelajari ilmu administrasi bisnis?
  2. Epistimology
    Ada kepentingan manusia terhadap ilmu pengetahuan.
    Ada tiga kepentingan manusia:
    1. kepada alam —> melahirkan ilmu alam
    2. sosial —> melahirkan ilmu sosial
    3. kritis -> melahirkan ilmu kritis
    Ada apa di balik pengetahuan? kenapa kita mempelajari pengetahuan? ada kepentingan apa kita mempelajari suatu pengetahuan? 
  3. Aksiology
    Mengacu pada etika/norma/nilai.
    Contoh: Ketika belajar pajak malah digunakan untuk memanipulasi pajak. Atau ketika belajar tentang ilmu kandungan malah digunakan untuk membantu proses aborsi. Ahli nuklir menggunakan ilmunya untuk menghancurkan kota atau perang.

Selain ketiga paradigma penelitian di atas, ada lagi dua jenis paradigma yang dianggap sebagai pengembangannya, yaitu :

  1. Post-Positivisme
    Menggunakan pendekatan kualitatif. Tapi tetap sama-sama menguji teori. Bukan mengkonstruksi teori. Menggunakan tipe penelitian deskriptif.
  2. Pragmatisme.
    Bukan paradigma baru, tetapi merupakan mixed methods. Gabungan pendekatan kualitatif dan kuantitatif.

Baca tulisan lainnya tentang bisnis dan manajemen di blogku ya. Klik di sini.

Sumber : materi kuliah Teori dan Aplikasi Organisasi oleh Heri Fatkhurrahman, M.Si tanggal 26 November 2020.

Leave a Reply