Beasiswa,  Daily Life,  Indonesia,  Pemikiran

Hati-hati Dengan Beasiswa Luar Negeri!

Beasiswa ke luar negeri?! MAaUuuuu d0oong !!!

Yah, kira-kira begitulah semangat kebanyakan anak bangsa ini ketika mendengar tawaran beasiswa luar negeri. Termasuk saya (dahulu). Dapat dipahami betapa bergengsinya bisa kuliah di luar negeri. Dan betapa harapan untuk dapat bertandang ke negeri seberang begitu besar. Siapa yang tidak tertarik “mengintip” lokasi-lokasi yang sebelumnya hanya dapat dilihat lewat layar lebar ataupun gambar-gambar di internet.

Waspadalah dengan berbagai beasiswa luar negeri yang ditawarkan. Bukannya saya sentimentil, tapi cobalah berpikir seperti ini : hari gini, siapa yang tidak mau untung? Nah, kira-kira apa sih keuntungan dari negara penyelenggara beasiswa? Pernah terpikirkan?

Hubungan Bilateral Yang Baik? Yang Benar Saja?!

Saya kira tidak sesederhana mengharapkan hubungan bilateral yang baik. Apalagi ketika dunia ini berporos pada materialisme dan kapitalisme. Ide “hubungan bilateral yang baik” terdengar begitu naif di telinga saya. Benarkah demi hubungan bilateral yang baik, negara maju itu rela menyisihkan devisa negaranya untuk negara berkembang seperti Indonesia? Bukankah tanpa kegiatan khusus yang mengarah pada “hubungan bilateral yang baik”, Indonesia sudah tergantung dengan negara maju? Tergantung pada produk-produk, mode, hingga mata uang! Lalu untuk apa beasiswa itu?

Anak Bangsa Lupa Daratan. Menjadi TKI di Negeri Orang.

Pelajar Indonesia memang mempunyai predikat bagus di negara-negara maju. Terkenal pekerja keras dan ulet (katanya). Namun begitu, berapa banyak yang kembali ke negaranya, Indonesia? Bertebaran di negeri asing, mengembangkan industri negara itu. Hingga lupa dengan tanah air. Berbagai alasan mengemuka. Mulai dari tidak ada pekerjaan yang sesuai di Indonesia (dari segi intelektual dan nominal gaji) hingga keterlenaan dengan keteraturan di luar sana. Bahkan ada yang dengan bangganya mengatakan : “saya kan menambah devisa negara, sebagai TKI. Saya juga membawa nama baik bangsa ini.” !!!

Yah, perlu diakui bahwa “wajah” bangsa ini masih banyak carut-marutnya. Tapi kalau orang-orang pintar Indonesia di luar negeri semua, bagaimana negara ini bisa bangkit lebih cepat?! Siapa yang akan membenahi wajah bangsa ini?

Ada suatu frase yang perlu kita renungkan :

Bangsa Indonesia ; yang pintar-pintar jadi TKI di luar negeri. Yang di dalam negeri tinggal kuli-kuli.

(Hehe.. emosi ?! Tidak setuju?! Mau protes ?! Coba dipikir-pikir. Di satu sisi ada benarnya. Di satu sisi..)

Eropa Butuh Teknisi

Seorang nara sumber yang sudah bertahun-tahun malang-melintang di Eropa sana menceritakan bahwa tren pemuda Eropa untuk belajar hal-hal teknis berkurang. Mereka lebih menggandrungi ilmu-ilmu manajemen. Lalu bagaimana mengisi kekosongan teknisi tersebut? Nah, caranya dengan memberikan beasiswa kepada anak-anak cerdas dari Asia, termasuk Indonesia.

Untuk beasiswa S2, biasanya akan ditawarkan suatu tema untuk thesis. Dan biasanya tema tersebut adalah permasalahan dalam industri Eropa (tema pesanan perusahaan). Nah, ketika mahasiswa penerima beasiswa tersebut sukses memecahkan permasalahan itu dalam thesis-nya, otomatis ilmu tersebut langsung diserap oleh perusahaan Eropa tersebut. Lagi-lagi ide cemerlang anak Asia dicuri. Yang lebih menyedihkan adalah anak Asia itu tidak menyadari apa yang terjadi. Justru merasa berhutang budi karena telah diberikan kesempatan belajar.

Setelah lulus dari kuliah, menyadari bahwa bangsanya sudah tidak kondusif untuk perkembangan keahliannya, gaya hidupnya yang baru, dan (tentu saja) harapan akan kesejahteraan, maka lulusan beasiswa tersebut enggan untuk pulang kampung. Ia memilih untuk bekerja di negeri seberang. Tentu saja jika ia berprestasi, perusahaan luar negeri akan menawari kontrak kerja.  Tapi lamanya kontrak kerja ini pun tidak akan melebihi waktu yang dibutuhkan seseorang hingga dapat mengajukan hak kewarganegaraan. Mengapa? Karena Eropa hanya butuh otaknya, tidak butuh penambahan warga negara yang artinya penambahan beban negara. (disana warga negara dapat tunjangan, pensiun, dll)

Jadi kalau ada yang berargumen bahwa dengan beasiswa ini, negara donatur dapat lebih memahami pola pikir anak bangsa penerima beasiswa.. Maka ini benar adanya. Tapi “memahami pola pikir” yang dimaksud adalah mengambil ide-ide kreatif dan kerja keras penerima beasiswa.

Jepang Pun Tidak Jauh Berbeda

Pengalaman ini saya dapatkan dari adik saya, seorang lulusan D3 Perikanan. Ketika saya bertanya rencana hidupnya selanjutnya dan menanyakan kepadanya, “mengapa tidak mencoba mencari beasiswa perikanan?” Ia malahan menceritakan kisah temannya yang mendapatkan beasiswa di Jepang.

Ya. Adik saya memiliki seorang teman yang mendapatkan beasiswa pertanian di Jepang. Tapi alih-alih mengharapkan mendapatkan ilmu pertanian yang mumpuni, ia ternyata hanya menjadi kuli. “Nyangkul, melakukan pembenihan, yah.. intinya jadi kuli, kak!” begitu papar adik saya. Saya pun hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala.

Di Jepang pertaniannya sudah serba otomatis, menggunakan mesin-mesin besar. Sayangnya teman adik saya tidak diajarkan tentang mesin-mesin tersebut. Kalaupun diajarkan, ia akan kebingungan untuk menerapkannya di Indonesia. Masalahnya klise, belum ada industri pertanian di Indonesia yang mampu membeli mesin tersebut.

Beasiswa Australia dan Negara-Negara Maju, Setali Tiga Uang

Kiranya rekan-rekan perlu membaca tulisan pak Angga Nugroho tentang politik beasiswa Australia.  Pak Angga Nugroho menjabarkan beberapa hal yang perlu dipikirkan mengenai politik beasiswa Australia. Apa kiranya yang mungkin menjadi motif Australia (dan negara maju lainnya) memberikan beasiswa kepada negara berkembang seperti Indonesia? Ternyata ada politik etis yang sangat tidak etis bagi kesejahteraan rakyat. Dan ada pula taktik politik balas budi yang akhirnya membuat bangsa ini semakin tenggelam dalam produk-produk dan proyek-proyek import. Dampak negatifnya tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya. Hanya karena mendapatkan beasiswa, bangsa ini merugi.

Tips Memilih Beasiswa

  • Luruskan visi. Bawa ilmu itu ke Indonesia! Jangan menambah panjang barisan yang hanya memikirkan perutnya sendiri. Ilmu pun menjadi tidak membawa manfaat untuk masyarakat.
  • Pilih jurusan yang memang terbaik di negara itu. Jerman dengan TI-nya, Belanda dengan kedokterannya, dll. Yang dengan ilmu itu kamu bisa membangun bangsa ini. Kecuali kalau niatan kamu cuma untuk jalan-jalan, maka silahkan ambil kompetisi beasiswa yang mengusung program : budaya. Tapi jangan mengharapkan ilmu-ilmu penting yang dapat dimanfaatkan untuk bangsa. Memahami budaya mereka berarti siap menjadi juru bicara mereka di negeri sendiri (kalau tidak, mana balas budimu? Hehehe..)
  • Sebisa mungkin beasiswa dibiayai oleh bangsa sendiri. Entah itu lewat yayasan perusahaan besar di Indonesia ataupun beasiswa dari perusahaan tempat bekerja. Sehingga balas budi pun dikembalikan untuk kemajuan bangsa. Tidak terikat dengan pihak asing.
  • Kalau mau ke luar negeri : untuk jalan-jalan (masa’ orang bule saja yang sering jalan-jalan di Indonesia!), beasiswa (dari kantong anak bangsa), atau menjadi duta bangsa (ide dari mama saya). Hayo pilih yang mana?!

Semoga dengan tulisan ini para pembaca menjadi lebih waspada dalam menerima kebaikan dari negeri orang. Bukan bermaksud untuk antipati, sentimentil, dsb. Tapi mencoba lebih realis. Kita hidup di dunia yang menganut paham take-and-give. Adakah yang gratis?

::Terbuka untuk koreksi dan tukar-pendapat::

::Diriku yang sedih melihat keterpurukan bangsaku::

::Mari kita perbaiki “wajah” bangsa Indonesia::

0 Comments

    • putrichairina

      Duh! Kalau saya menuliskan daftar beasiswa yang “baek2”, itu namanya tidak mencerdaskan pembaca. Lagipula saya tidak tahu mana yang “baek2”. Hehehe..
      Kalaupun lelakisejarah ingin melanjutkan study dengan beasiswa, inget rumusnya : luruskan visi! Bawa ilmu itu ke Indonesia! Dan jangan sampai karena perasaan “berhutang budi” kamu sampai rela menggadaikan sumber daya alam Indonesia dengan proyek-proyek pesanan mereka. (baca tulisan Pak Angga Nugroho deh!)
      Mari kita bangun bangsa ini!

    • putrichairina

      Ngga dulu, deh! Mau berkarya dengan ijazah S1 dulu. Kayaknya saya masih laku dg ijazah ini. (hekekeke..banyak yang mau ngambil S2 di luar supaya laku dipasaran dalam negeri khan..hayo ngaku..padahal di Indonesia belum banyak industri yang dapat menampung keahlian S2.Ujung-ujungnya kerja di luar deh!)
      Lagipula sudah banyak ahli IT di Indonesia. Kalau memang sudah mentok, barulah mencari ilmu di negeri orang.

    • putrichairina

      Referensi yang saya gunakan adalah pendapat beberapa orang (kalau barja teliti, sudah saya tuliskan di atas).
      Kalau maksudnya adalah referensi semacam karya tulis atau jurnal, saya belum mendapatkannya. Entah kenapa jarang sekali yang membahas hal ini. Yah, namanya juga politik kepentingan. MUNGKIN karena yang sudah dapat beasiswa merasakan enaknya, jadi ndak diungkap sisi negatifnya. Hehe.. :p
      Orang-orang besar di Indonesia pun khan kebanyakan hasil didikan beasiswa luar negeri. Jadi ngerti khan kenapa mereka MUNGKIN tidak membahas hal ini.. Wong dah ngerasain “basahnya”. Nanti dibilang “ngga tahu balas budi”, gimana?! Hehehe.. (baca lagi blognya pak Angga)

    • putrichairina

      Kampanye “No brain drain”? Wah, saya baru dengar..
      Iya, kalau zaman dahulu kita diperas dengan tenaga fisik, sekarang pemerasannya lebih halus lagi, salah satunya lewat otak anak bangsa. Timbalah ilmu dimana saja untuk kemudian digunakan membangun bangsa!

  • Abdul Ghofur

    Wah gimana lagi…wong negara kita pelit sama rakyatnya… memang sudah hukum alam…siapa yang menabur dia yang menuai…siapa yang menanam dia yang memanen 🙂
    Artikelnya bagus…

    • putrichairina

      Hohoho.. masuk akal juga!
      Makanya pilih wakil rakyat yang bertanggung jawab pada tanggal 9 April 2009 nanti. Supaya pemerintahan lebih bersih, peduli pada rakyat, dan professional dalam bertugas.

  • pimpii

    Yup. akur…..
    Tapi bagaimana jika pemerintah sendiri yang banyak-banyak kasi beasiswa ya…! baik dalam negeri maupun luar negeri,,,

    • putrichairina

      Ini pernah dilakukan Bung Karno dengan mengirim 1000 pelajar ke luar negeri yang membawa visi untuk membangun industri di negeri sendiri. Seperti halnya Restorasi Meiji di Jepang. Tapi sayang dengan pergantian kepemimpinan, pelajar-pelajar itu justru dilarang pulang ke kampung halamannya, Indonesia, oleh rezim yang baru.

  • giyzt

    saya melihat apa yang dipaparkan dalam blog ini memang benar adanya..banyak yang lupa ..tapi tidak semua begitu semua kembali kepada personal masing masing terutama bicara mengenai masalah uang banyak sekali yang lupa daratan..semua orang punya cara yang beda beda untuk memperbaiki negeri ..salam perbaikan untuk Indonesia..

    • putrichairina

      Iya, giyzt! Salah satu sifat manusia adalah lupa. Tapi bukan berarti untuk terlena dalam ke-alpa-an. Betul! Cara tiap orang memperbaiki negeri ini berbeda-beda. Tapi hati ini sebetulnya lebih tahu, apakah itu merupakan “cara memperbaiki negeri” ataukah “pembenaran atas kepentingan pribadi”. (Katanya hati kecil tidak akan berbohong)

      Salam kenal, giyzt!
      PS : kayaknya giyzt dah dapet beasiswa di luar negeri ya? Abisnya menggunakan kata “melihat”. hehe..

    • putrichairina

      Duh! Kenapa balasnya ngga disini aja, putu?! Ya wes lah.. Ndak apa..
      Kayaknya anak IF2801 yang main kesini ngga cuma barja. Itu di comment no.1 (lelakisejarah) sepertinya pak wahid.
      Ok! Kita tukaran link.

  • risna1911z

    wah mbak putri kebanjiran comment :p
    heheh jelas lah coz it’s another side of scholarship, masih sedikit orang yang membahasnya atau mungkin coba untuk disembunyikan
    i know that everything always have 2 side (it’s depend on how we see it and how wise we are)
    but thanks a lot mb for the artikel
    oya mungkin mb bisa membahas lagi tentang sisi buruk dari beasiswa, agar kita bener2 aware terhadap beasiswa dan tidak tertipu oleh keindahan yang mengaburkan pandangan kita.

    • putrichairina

      Banjir? Emangnya Jakarta? Hehe..
      Sebenarnya saya mengharapkan teman-teman yang sudah pernah ataupun sedang mendapatkan beasiswa dari luar negeri untuk berkomentar disini. Ada? Ada? Ada?

  • restu utami

    iya pu,, bner banget,,
    tapi aku punya cita-cita yang lebih dari itu hehehe
    smg apapun yang akan dipersembahkan bagi negara
    membuktikan bahwa kita adalah rahmatan lil ‘alamin hehehe 😀

    • putrichairina

      Sepakat,tu! Lebih luas lagi, menjadi rahmat bagi seluruh alam.. Indonesia hanya salah satu bagian dari “alam” itu. Ditunggu realisasi dari cita-citamu, tu! Aq dukung ! 😉

  • kania

    wii,,i find it stunning to talk about scholarship..sayangnya Indonesia kurang menghargai tunas bangsa yg berprestasi sih..jadi pada kabur keluar!,,tapi,bener bgt mbak..innamal amalu bin niat (“semua tergantung niat”)…
    Makanya,,,do the best all the time supaya indonesia bisa bangkit..
    Indonesia emas 2020 sudah di depan mata,,insya allah..amin

    • putrichairina

      Amin. InsyaAllah dimulai dari Indonesia Emas menuju Dunia Emas.
      But, kania.. we should remember one thing.
      Pahlawan itu tidak pernah mengharapkan penghargaan. Mereka adalah pribadi-pribadi yang ikhlas beramal. Penghargaan manusia itu hanyalah hadiah kecil dari Allah atas kerja-kerja yang telah dilakukan. Penghargaan justru bisa menjadi ujian ketika membawa kepada kesombongan.
      Sepakat! Lakukan yang terbaik!

  • Muhammad Rifai

    Kalo beasiswa yang dibiayai oleh negara asal, itu jelas kita akan cenderung di manfaatkan oleh mereka.
    Kecuali jika kita memang dibayai oleh negara kita sendiri, maka balas budinya ya untuk bangsa kita.
    Kalo saya justru berfikiran, kenapa ngga’ kita balikkan keadaan yang ada sekarang ini, artinya kita harus bisa mengubah keadaan bahwa negara kita itu negara maju, bukan negara yang berkembang terus, selain itu dari pihak pemerintahan sendiri juga seharusnya mendukung para pencari ilmu.
    Kalo saya jelas berfikir realistis, seandainya kita dapat beasiswa di luar negeri trus kita bisa mendapatkan hal yang kita butuhkan di sana lebih baik kenapa tidak? daripada kita harus mencari ilmu di negeri sendiri yang biayanya mahal dengan kualitas dibawahnya.
    Jika memang kita mendapatkan beasiswa harus kita fikirkan juga kedepannya, jangan mudah terikat dengan kontrak dari negara lain apalagi negara yang juga menjajah bangsa kita secara tak langsung.
    Tapi memang sebaiknya kita istikharoh aja sebelum mengambil keputusan, semoga diberikan yang terbaik…
    Amiii..iin

    • putrichairina

      Pertanyaan : bagaimana cara mengubah keadaan menjadi “negara maju”?

      Pemerintah sekarang belum mendukung para pencari ilmu?!

      Nah, maka dari itu teliti sebelum memilih untuk pemilu legislatif tanggal 9 April 2009 nanti! Kan sudah diingatkan di TV : Jangan beli kucing dalam karung!
      Kalau memang akhirnya ilmu itu harus dikejar ke sumbernya, kejarlah! Tapi ingat kembali ke niatan awal agar bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. (lebih luas lagi, bagi seluruh alam) Banyak yang perlu dibenahi di Indonesia.. Kalau sudah berilmu, kembalilah untuk memperbaiki keadaan.. (katanya mau menjadi negara maju khan..)

  • raeyans

    semuanya tergantung sudut pandang sih put. dulu ada temenku yang kena rampok trus dengan berbagai cara dia bisa negdapetin alamat si perampoknya, tapi kemudian dia berubah pikiran tuk nglaporin si perampok ke polisi, kenapa?? ternyata hasil rampokan tuh berguna bagi keluarganya dan si perampok tersebut adalah tulang punggung satu” nya di keluarga mereka. kadang kita merasa kita diperlakukan tidak adil, tapi coba tuk ubah sudut pandang. aku juga punya temen yang kuliah di luar negeri en beasiswa dari pihak asing, dia juga bilang kalau tesisnya diserap oleh pemberi beasiswa, tapi dia berpikiran positif, ternyata dia yang dahulu zero bisa jadi hero. tesisnya berguna untuk orang lain.

    salam 🙂

    • putrichairina

      Yang saya harapkan dari tulisan ini bukanlah agar rekan-rekan menolak habis beasiswa luar negeri. Tapi agar rekan-rekan menyadari betul akan konsekuensi dari suatu pilihan dan lebih “ngeh” serta tergerak untuk bersama bahu-membahu memperbaiki “wajah” bangsa Indonesia.
      Bangkitlah pemuda!
      Terima kasih, raeyans.

  • martha adiwaty sihaloho

    wah..wah..thanks banget ne…udah dapet info ..tadinya aku mau s3 ke jepang neruskan kelajutaan Thesis s2 tapi baru aja mau browsing tentang beasiswa.. dipikir-pikir ada benernya juga. temen suami belajar di jepang .. belakangan aku tau dari suami ternyat dia di sn kerja juga cleaning servis (CS) memeng keren sekolah dijepang tapi mkt ga tau dan kita kn ga liat kenyataan disana gmna….ok aku akan lebih hati-hati nanti…… daa……

  • rendy

    betul, saya sgt setuju dengan artikel yg anda tulis..
    karena pada dasarnya tidak ada yg gratis.
    memang benar bangsa kita tetap di jajah dengan cara yg lebih halus yaitu pemanfaatan otak yg tidak sesuai dengan imbalan.
    benar kiranya nasionalisme kita di kikis sedikit demi sedikit..
    jadi saya setuju kalimat “yg pintar jd TKI yg d indonesia jd kuli”
    inilah realitas pemerintah yg kurang peduli thd kemajuan bangsa..
    kenapa?
    karena pemerintah membiarkan aset bangsa terutama pemuda2 yg pintar untuk diserahkan ke bangsa lain untuk memajukan negara maju, negeri kita hanya bisa bangga akan ada anak bangsa yg “terpakai” di luar negeri sana…
    Indonesia butuh konsep yg jelas.
    sedangkan sekarang hanya mementingkan diri sendiri dan golongan..
    indonesia tidak akan menjadi lebih baik bila terus seperti ini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *